Minggu, 17 November 2019

Semua Orang Bisa Menulis



Dalam perjalanan Jakarta-Bogor, tadi sore, saya menerima sms dari seorang kawan di negeri Jiran, “...bukunya sudah saya terima. Jadi ngiri, kapan saya bisa bikin buku.”

Kawan itu, ketika mendengar saya menulis buku, ingin sekali mendapatkannya. Tapi, bagaimana cara memiliki itu buku, karena ia, saat itu, tinggal di Kuwait. 

Setelah agak lama kami tidak berkomunikasi, minggu lalu saya kirim pos-el minta alamat beliau di Kuwait. “Saya sekarang tinggal di Malaysia,” jawabnya. Saya pun meminta alamat lengkapnya. Hari Sabtu lalu, sekalian ke Jakarta, saya datang ke kantor TIKI di Jalan Buncit. 
“Kapan dikirim dan kapan nyampai ke alamat tujuan?” tanya saya kepada petugas TIKI. “Paket akan dikirimkan hari Senin dan akan sampai di alamat empat hari kemudian, Pak. Tapi, tergantung pada pemeriksaan di bea cukai sana. 
Kadang lama di situ,” jelas petugas TIKI. Saya pikir, anggaplah 10 hari atau 2 minggu sudah sampai ke alamat. Tak masalah. Rupanya, itu buku datang lebih cepat dari yang saya duga. 
Dikirim Senin, 19 Maret 2012; Rabu, 2 hari kemudian, sudah mendarat di tujuan. Alhamdulillah.

Apa yang menarik atau tidak menarik dari pesan yg kawan itu kirim? Saya tulis lagi potongan pesan singkatnya:
“...bukunya sudah saya terima. Jadi ngiri, kapan saya bisa bikin buku.”
Saya langsung balas sms tersebut dengan, biasa... sms yang lebih panjang. 
“Semua orang bisa menulis. Semua orang bisa membuat buku. Bukankah sejak kuliah kita biasa membuat makalah, yang dilanjutkan dengan skripsi? 
Setelah bekerja pun, kita rutin membuat laporan pekerjaan. Menulis adalah seperti ketika kita diwawancarai, dan si pewawancara bertanya kepada kita, “Tell me something about you!” 

Kita akan nyeroscos bercerita tentang diri kita, sejak lahir, sekolah, mengikuti macam-macam pelatihan. Kita terus bicara, hingga pewawancara bilang, “Cukup!” 

Apalagi bagi orang yang lama tinggal di luar negeri. Pasti banyak hal bisa dikisahkan. Banyak peristiwa dapat kita rekam. Banyak cerita yang bisa kita kabarkan. Begitulah. Tinggal menuliskannya saja. Semoga.”

Mundur ke sekitar 30 tahun lalu, ketika saya masih di bangku SMA. Seorang kawan dekat hendak memulai kuliah di Yogyakarta. “Kirim-kirim surat, ya!” pintanya. Saya mau kirim surat padanya. Tapi...bingung, apa yang harus saya tulis. 

Agar kertas surat tak terlalu kentara kosongnya, lantaran tak tahu harus dibagaimanakan kertas dan pena itu, saya memutuskan untuk menulis di kartu pos saja. Kartu itu, kan, ruang untuk menulisnya sempit sekali. 

Paslah dengan kondisi saya yang tidak bisa menulis. Setelah lama pena saya pegang dan kartu pos berada di hadapan, di atas meja, akhirnya saya menulis begini, “Apa kabar di sana? Kami di Bandung baik-baik saja.” Selesai. Singkat cerita, saat libur semesteran, ia pulang ke Bandung. Kata pertama yang ia keluarkan saat berjumpa, “Kok, kamu nulis surat hanya gitu?” Ia pun, di lain kesempatan, mengajari saya bagaimana menulis. Surat bahasa Inggris, malah!

Saya mulai belajar menulis surat. Surat-surat saya tujukan, sebagian besar, ke Keduatan-kedutaan besar di Jakarta, minta brosur tentang negaranya. Berdatanganlah surat-surat balasan dari banyak kedubes ke rumah. 

Bapak saya, yang Sekolah Dasar saja tak tamat, memperkenalkan saya ke siaran radio gelombang pendek. Itu beliau lakukan ketika saya masih belajar di Sekolah Dasar. Kami mendengarkan siaran radio yang dipancarkan dari negeri di seberang lautan itu melalui radio zaman dahulu kala, Radio Tabung. 

Tidak seperti radio transistor, radio ini, begitu kita nyalakan, tidak langsung bersuara. Harus menunggu beberapa menit. Perlu panas dulu. Kalau sudah rada-rada hangat, barulah ia mengeluarkan suara. 

Kami terbiasa mendengar siaran-siaran Radio Australia, Suara Amerika, Radio Nederland, BBC, NHK, sampai ke Radio-radio Rusia, Albania, dan banyak lagi. 

Melayanglah surat-surat saya ke negeri-negeri itu, minta Pedoman Acara, buku-buku pelajaran bahasa asing, dan foto para penyiar. 

Senang sekali ketika menerima balasan dari radio-radio itu. Pak Pos, waktu itu, belum naik motor. Mereka naik sepeda ontel. Rasa gembira, selalu muncul, ketika sepeda pos itu berhenti di halaman rumah. 

Di luar itu, saya pun berlangganan beberapa majalah gratis dari beberapa penerbit di negeri jauh. Kamar saya yang tak luas itu, dipenuhi brosur-brosur dari banyak negara. Beberapa tahun kemudian, ketika saya kuliah, seorang kawan yang punya hobi filateli, berpesta memanen perangko-perangko dari surat-surat itu. 

Saya senangnya nulis saja, ngoleksi perangkonya, biar orang lain saja.

Semakin sering menulis, semakin banyak saja yang bisa diceritakan. Tibalah waktu melakukan tugas akhir: melakukan pemetaan geologi di Blora, Jawa Tengah. 

Saya dan seorang teman yang daerah pemetaannya bersebelahan, tinggal di rumah Pak Camat. Pak Supriyanto dan Keluarga adalah penganut agama Nasrani yang taat. 

Mereka rajin melakukan kebaktian. Beliau beserta keluarganya sangat dekat dan dihormati, tidak hanya oleh karyawan kecamatan, melainkan juga oleh masyarakat sekitar rumahnya. 

Sebagai mahasiswa yang belum berpenghasilan dan biasa hidup minimalis, tinggal di rumah Pak Camat, saya merasa bagaikan tinggal di penginapan dengan fasilitas utama. Bu Camat senantiasa memberikan sajian makanan yg lezat. 

Keluarga itu sangat baik kepada kami. Tiap hari kami dijamu. Pada hari terakhir kami tinggal di rumah keluarga saleh itu, kami bermaksud menyerahkan (sangat) sedikit uang sebagai tanda terima kasih kami kepada keluarga yang telah menerima kami tinggal di rumah yang nyaman itu.
“Uangnya kami terima. Tapi, adik-adik, kan, masih perlu biaya untuk keperluan sekolah. Kami kasihkan lagi untuk adik-adik, ya!” Bu Camat dengan ramah mengembalikan itu uang. Semoga Tuhan membalas kebaikan keluarga itu dengan yang lebih banyak dan berkah.
Saya kembali ke kampus. Sekitar satu tahun kemudian, Yono, putra Pak Camat, berkunjung ke pamannya di Bandung. Ia tak bertemu saya, entah lagi ke mana saya waktu itu. Tapi berhasil bertemu dengan Menot, kawan yang sama-sama tinggal di rumah Pak Camat. 
“Kemarin Yono bilang, ‘Om Jonih menulis surat kepada Bapak dan Ibu, panjang sekali. Lima halaman folio!”’
Brian dan Lorena, suami istri, pasangan muda asal California, bertemu di dekat kampus, di Dago, Bandung. Ketika ia menginap di sebuah hotel di dekat kediaman Gubernur Jabar, di Kebun Kawung, tiap pulang kuliah saya menemuinya. 

Mereka kemudian tinggal di keluarga Pak Sutisna, orang Sukabumi, orang tua dari sohib saya, Rudy, di daerah Cikutra. Setelah 3-4 bulan, Brian dan Lorena bilang bahwa mereka ingin tinggal di kampung, agar dekat dengan masyarakat. 

Mereka kemudian pindah ke Jalan Caringin, Kopo. Pasangan muda itu menjadi sahabat dekat saya. Hari-hari pertama bertemu, bahasa Indonesia yang mereka tahu hanyalah kata-kata: atas-bawah, kiri-kanan, maaf, terima kasih, dan kata-kata singkat lainnya. Saya mengajari mereka bahasa Indonesia dan bahasa Sunda, setiap hari. 

Suami-istri ini mengajari saya bahasa Inggris. Ia tinggal 6 bulan di Bandung. Tiga bulan pertama, keduanya bisa berkomunikasi dalam bahasa Indonesia. 

Tiga bulan berikutnya, Brian mulai bisa berbahasa Sunda, Lorena tidak. Bahasa Inggris saya yang nekat-nekat dan agak kacau ini, ya, banyak dari merakalah. Kalau tidak ketemu mereka, lebih payah lagi. 

Setelah mereka pulang ke negerinya, kami sering saling berkirim surat. Lucunya, mereka merasa saya sebagai teman masing-masing, bukan teman sebuah pasangan suami istri. Jadi, kalau berkirim surat, Brian dan Lorena menulis cerita masing-masing di kertas berbeda. 

Amplopnya saja yg satu. Saya pun membalasnya satu per satu. Lumayan, anggaplah sedang belajar menulis dalam bahasa Inggris. Hampir di tiap surat balasan dari mereka, selalu diawali dengan, “Thank you very much for your very long letter...!”

Apa maksudnya nulis ngalor-ngidul ini? Boleh perhatikan, pada awal cerita saya menulis di kartu pos, karena kesulitan harus menulis apa dan apa yang harus ditulis! Lalu, bandingkan dengan ... ”Lima halaman folio” dan “the very long letters”, karena keranjingan menulis. Maksud saya, pada dasarnya semua orang bisa menulis. Tinggal memulainya saja, lalu berlatih, berlatih, dan berlatih. Pada akhirnya... akan mengalirlah tulisan itu.

Selanjutnya, agar tulisan agak berisi, tentu kita perlu lebih banyak lagi membaca dan membaca. Sejak belajar di Sekolah Dasar dan di Sekolah Menengah Pertama, saya senang menikmati majalah-majalah bekas di Alun Alun Bandung; di trotoar kantor PLN, di Jalan Cikapundung; atau... meminjamnya dari teman. 

Bulan puasa, sering juga ngabuburit ke tempat-tempat ini. Yang paling seru, waktu itu, adalah nongkrong di sudut timurlaut Alun Alun, di mana terdapat kantor penerangan untuk turis. 

Apanya yang seru? Liatin para guide berbicara bahasa Inggris dengan para wisatawan luar negeri. “Ingin rasanya, kelak, bisa bahasa asing itu!”

Ketika di Sekolah Menengah Atas, akses ke bahan bacaan lebih terbuka. Saya sekolah di di SMAN 7 (dulu mah, sekolah paling brutal di Bandung), Jln. Lenglong Kecil, bersebelahan dengan markas AKTUIL, majalah musik paling ternama, waktu itu. Hampir tiap hari, sepulang sekolah, setelah baca koran Pikiran Rakyat gratis pada majalah dinding, di halaman kantor koran Bandung itu, depan Hotel Homann, saya mampir dan berlama-lama di Perpustakaan Pemda Jabar, belakang Gedung Merdeka. 

Saya asyik dan terlena dengan buku-buku dan majalah bagus-bagus di gudang buku itu. Bacaan-bacaan itu, kelak, memperkaya bahan untuk banyak tulisan. 

Di antara bahan bacaan yang paling sering saya baca adalah INTISARI, PRIMA (sudah tak hidup lagi, menyusul gugurnya Window on The World di Jln. Gereja 3, yang sekarang sudah jadi kantor BNI), PRISMA (ini mah rada berat), ANDA (majalah psikologi populer), AKTUIL, MANGLE (biasa dibaca atau dipelesetkan kawan-kawan sebagai “menjel”, majalah basa Sunda) dan, tentu saja, TEMPO. 

Akan halnya TEMPO, menurut Almarhum Mahbub Junaidi, dalam Asal Usul (sekarang sudah raib pula kolom bagus ini) di KOMPAS, “Para wartawan TEMPO itu adalah para sastrawan yang berganti kelamin menjadi wartawan!” Itulah mungkin, yang membuat TEMPO enak dibaca, dan perlu! Tapi, saya tak dibayar TEMPO, lho!

Pak Hernowo, orang Mizan, dalam buku Mengikat Makna, berpesan, “Ikatlah apa yang kita baca dengan menuliskannya.”

Pepatah lama, pepatah Latin, mengatakan, “VERBA VOLANT, SCRIPTA MANENT”. Spoken words fly away, written words remain. Yang terucap akan berlalu bersama angin; yg tertulis akan tetap abadi.

Larry King bilang, “Semua orang bisa bicara.” 

Saya kira, “Semua orang bisa menulis!”

Ciomas, 21 Maret 2012, menjelang tengah malam.
Salam,
jonih




Tidak ada komentar:

Posting Komentar

Judul Artikel

Tags

Labels

845. Tuhan Hadir di Salman (1) 846. Keringkan Kolamnya semua Ikan mudah dikuasai. (1) 847. Stalin dan Ayam. (1) 848. Penemu Permainan Catur (1) 849. To Much Love Will Kill You (1) 850. Kecerdasan dan Kepribadian (1) 851. Semua Orang Bisa Menulis (1) 852. Adakah Orang Yang Lebih Kaya Dari Dirimu ? (1) 853. Kesabaran Ammar Mustafa di Kota Riyadh (1) 854. Menyempurnakan Amal (1) 855. Misteri angka 6174 (1) 856. How Millennials Kill Everything (1) 857. Wardah di Harvard (1) 858. Pondok Ban Tan dan Surin Pitsuwan (1) 859. Snapshot: One Day In Batman’S Life (1) 860. One Way Ticket (1) 861. Pelajaran Allah Kepada Nabi Musa AS (1) 862. REAKSI vs RESPONS (1) 863. "Whiner or Winner (2) 864. Dia Bukan Pengemis (1) 865. Roel Mustafa Si Lelaki 1.000 Janda: Menafkahi Tidak Harus Menikahi (1) 866. Kolonel Sanders (1) 867. Sebuah Komitmen (1) 868. Tunov : Petani Cabai yang dimusuhi Mafia Tengkulak (1) 869. Kesalahan (1) 870. Filosofi Pohon Bambu (1) 871. Muhammad Hamza (1) 872. Wasiat Sang Ibu untuk Seorang Anak yang Telah Menelantarkannya (1) 873. Kisah Sumur Usman Bin Affan (1) 874. Kisah Erdogan Kecil yang Menolak Sholat Beralas Koran (1) 875. Hakim Cium Tangan Terdakwa (1) 876. Kisah Pendiri WhatsApp (1) 877. Daripada Mengutuk Kegelapan (1) 878. Kisah Si Pandai dan Si bodoh yang mempertanyakan 3 x 7 = 27 ?? (1) 879. Udin Menjadi Dokter (1) 880. Berebut Balon (1) 881. Kisah Secangkir Kopi (1) 882. Sesama Hewan Landak tidak mungkin saling merapat satu (1) 883. Gaji Terakhir Abdullah Untuk Sang Istri ( Kejadian Mengharukan) (1) 884. Monkey Business (1) 885. Kisah Pemuda Yang Menikahi Wanita “Buta (1) 886. Terlambat Mencintainya (1) 887. Kisah Hikmah Seorang Ayah dan Anak (1) 888. Kisah Sedih Rindu Suami kepada Istri dan Anak kepada Ibu (1) 889 Hidayah saat mau gantung diri di Tengah Guyuran Hujan Lebat (1) 890 Menukar Yang Berharga (1) 891 Indonesia Negeri 1945 (1) 892 Papa - Kembalikan Tangan Ita.... (1) 893 Ketika Allah berkata : "Tidak" (1) 894 Pemimpin dan Aspirasi (1) 895 Jenis Laki laki yang Ditarik Perempuan ke Neraka (1) 896 Bakso Khalifatullah (1) 897 Perampokan di Bank (1) 898 Memaknai Arti Kehilangan (1) 899 Lalat dan Semut (1) 900 Apakah Anda Kecanduan Jejaring Sosial dan menjadi Anti Sosial ? (1) 901 Penipuan lewat SMS (1) 902 Calon Raja (1) 903 Manajemen Panik (1) 904 Kabar Burung (1) 905 Mengapa Menunda Menikah ? (1) 906 6 Kekuatan Dahsyat Dalam Diri Manusia (1) 907 Hindari Jebakan Rutinitas Berumah Tangga (1) 908 Hati hati dengan Cermin 2 Arah di Toilet (1) 909 Bagaimana Anda Ingin Diingat ? (1) 910 Kevin Carter Fotografi Yang Bunuh Diri Setelah Menerima Penghargaan (1) 911 Jika anda .... ingatlah ... (1) 912 Meraih Rezeki Yang Sudah Tersaji (1) 913 Dialog Ustadz dengan Anaknya (1) 914 Sudah Waktunya Membahas Tentang Kesehatan Mental Nasional (1) 915 Sebagian Alasan Kenapa Dokter Dokter Di Negara Maju "pelit" Kasih Obat (1) 916 Kurikulum SD di Jepang (1) 917 Kurikulum SD Tahun 2013 (1) 918 Nasgitel (1) 919 Jendela (1) 920 Kisah Seorang Pemuda di Gerbong Kereta (1) 921 10 Tanda Kehancuran Sebuah Bangsa (1) 922 Berkumpullah dengan sesama Elang (1) 923 Dialog Anggota DPR (1) 924 Ayam Jantan Tidak Pernah Berbohong (1) 925 Bill Gates : 11 Peraturan yang Anak-Anak Tidak Akan pelajari di Sekolah (1) 926 Hati Seekor Tikus (1) 927 Regenerasi Diadang Godaan Pragmatisme (1) 928 Tekad Baru : Hidup yang polos polos saja (1) 929 Makna Filosofi dari Lagu Gundul Gundul Pacul (1) 930 Tetap Semangat (1) 931 Kalah Sebelum Berunding (1) 932 Jangan mudah menghakimi seseorang (1) 933 Ketika Wong nDeso Naik Pesawat . . . (1) 934 Anak bisa sukses bila dia dilatih sukses (1) 935 Kenaikan BBM dan Kepedulian Pemerintah bagi Rakyat Miskin (1) 936 Semuanya Milik Allah (1) 937 Sepotong Cinta (1) 938 Ciri Priya Berbakat Kaya (1) 939 Renungan hidup Islami yang harus dibaca dan dipraktekkan (1) 940 Pengalaman Inspiratif Prof Rhenald Kasali (Guru Besar FE UI) (1) 941 L u c u (1) 942 Anak adalah titipan Allah (1) 943 Mom is The Best Super Hero in The Word (1) 944 Perang Puisi Laki Laki dan Wanita (1) 945 Kisah Besi dan Air (1) 946 Katak Lomba Lari (1) 947 Kisah Baut Kecil (1) 948 Kisah Wortel (1) 949 Jalan menuju keberhasilan (1) 950 Kisah sepotong kue (1) 951 Membangun atau menghancurkan ekonomi bangsa (1) 952 Hukum Truk Sampah ! (1) 953 Cinta yang Tersembunyi (1) 954 Nilai Seikat Kembang (1) 955 Meja Kayu (1) 956 Enam Kesalahan Terbesar Entrepreneur Yang Jarang Dibahas (1) 957 7 Seni Memaksimalkan Daya Tarik (1) 958 Putuskan Benang Itu ! (1) 959 Bisnis dengan Modal Nol (1) 960 Bekal Sukses Itu Bernama "PD" (1) 961 Saat Kenyataan Tak Sesuai Impian... (1) 962 Di Mana Tempat Terbaik Kita ? (1) 963 Seperti Apa Anda Mengukir Sejarah ? (1) 964 Aku ingin jadi Spiderman (1) 965 Kritik Anda adalah Kue Anda (1) 966 Tentukan Perubahan - Jangan Menunggu ! (1) 967 Di balik Keharuman Pahlawan (1) 968 Arti Cinta Bagi CEO Apple Inc (1) 969 Pengalaman Pramugari (1) 970 Penipuan Canggih Lewat Telepon (1) 971 Sempatkan Untuk Mendengar ! (1) 972 Dimana Letak Bahagia Anda ? (1) 973 Jam Tangan dan Keberanian Mencoba (1) 974 Pengalaman Keliling Dunia Anne Ahira (1) 975 Kuasai Kecerdasan Emosi Anda ! (1) 976 Mengenal Anne Ahira (1) 977 Nikmati Perbedaan (1) 978 Empati (1) 979 Kesendirian Tidak Selalu Mematikan ! (1) 980 Tempayan Retak (1) 981 Tetapkan Tujuan Hidup (1) 982 Hargai Apa Yang Kita Miliki (1) 983 Hikmah Meninggalkan Perkataan Bohong (1) 984 Obat BUKAN JAWABAN (1) 985 Paku dan Pemuda Pemarah (1) 986 Jendela Rumah Sakit (1) 987 Pelajaran Sang Keledai (1) 988 Filosofi Pensil (1) 989 Kutu Anjing dan Motivasi (1) 990 Mengambil Pelajaran dari Permen (1) 991 Tertipu Penampilan (1) 992 Lukmanul Hakim bersama Anak dan Keledainya (1) 993 Lateral Thinking (1) 994 Otak bu guru yg rada rada (1) 995 Racun Hati (1) 996 Hadiah (1) 997 Cangkir Yang Cantik (1) 998 Filsafat Bolak Balik (1) 999 Bajak Laut (1) A. Qoyum Tjandranegara (1) Abu Hanifah (1) Adam Lanza (1) Afrika Utara (1) Air (1) Alfred Nobel (1) Allah (1) Amerika Serikat (6) Amsterdam (1) Anak Jenius Programer Komputer Termuda Dunia (1) Andre Wongso (1) Android (1) Andy F Noya (1) Anjing (1) Anne Ahira (22) APBN (1) Apple Inc (1) Ardiansyah (1) Arthur Cutton (1) Asian Brain (1) At-Thoriq Ilal Jannah (1) Atheis (1) Attitude (1) Autisme (1) Ayam (1) Ayam Jantan (1) Balon (1) Bandara (1) Banjaran (1) Bank (2) Bank Dunia (1) Bank Indonesia (1) Batman (1) Batubara (2) BBM (1) Beijing (1) Being professional (1) Berita Selentingan (1) Besi (1) Bibit (1) Bill Gates (3) Bintaro (1) Bisu dan Lumpuh” (1) Boyolali (1) Buku Sepatu (1) Bullying (1) Bumi (1) Bumi Serpong Damai (1) Bunga (2) Burung (1) Cabai (1) Cahyadi Takariawan (2) California (1) Cangkir (1) Cardiyan HIS (2) Cat Woman (1) Cermin (1) Character Building (1) Charles Schwab (1) Chiken Soup (1) China Airline (1) Chrome (1) Cina (1) Cinta (1) Cita cita (1) Cucu (1) Dadang Kadarusman (1) Dahlan Iskan (2) dan Kopi (1) Dell Computer Corp (2) Desa Bunigeulis (1) Discouragement (1) Dokter (1) Donald Hiroto (1) Donald Trump (1) DPR (1) E-Magazine (1) E-ticket pesawat (1) Easy Money (1) Elang (1) Emha Ainun Nadjib (1) Encouragement (1) Entrepreneur (2) Erdogan (1) Experience (1) Facebook (1) Fakultas Kedokteran Universistas Tarumanegara (1) Financial bootstrapping (1) Fiqh (1) Football Coach (1) Forpiko (1) Freeport Indonesia (1) Fritzhugh Dodson (1) Gedung Kemendikbud (1) Gempa Sumatera (1) Gharar (1) Google (1) Gramedia (1) Growth (1) Gundul (1) Gunung Ciremai (1) Hadiah (1) Halle Berry (1) Harvard University (1) Haryo Ardito (1) Helen Keller (2) Helen Tze (1) Henry Remanleh (1) Heppy Trenggono (1) Hiramsyah S Thaib (1) Hiu (1) Hotel Kempinski Jakarta (1) Howard Hupson (1) Howard Tennan (1) Huisart (1) Ibu Pertiwi (1) Idris-Djunaedi Abdilah (1) Imam Ghazhali (1) India (1) Indonesia (4) Informasi (1) Intangible Asset (1) Interest (1) Internet Marketer (1) Irwan Prayitno (1) Islam (1) Islamedia (1) Ismail Marzuki (1) Ivar Krueger (1) Jabar (1) Jam Tangan (1) James Bond 'Die Another Day (1) Jawa Barat (1) Jean Dominique Bauby (1) Jejaring Sosial (1) Jepang (2) Jesse Livermore (1) Jessica Chandra (1) Jumadi Subur (1) Kabar Angin (1) Kabupaten Kuningan (1) Kakek (1) Kaki Palsu (1) Kantong Empedu (1) Kaos Mutif (1) Kaum Duafa (1) Kecerdasan Emosi (1) Kehidupan (2) Kehilangan (1) Keilmuan (1) Kekuatan dari Fokus (1) Kekuatan Disiplin Diri (1) Kekuatan Impian (1) Kekuatan Manusia (1) Keledai (2) Keluarga (1) Kemauan (1) Kentucky Fried Chicken (1) Kerajaan Arab Saudi (1) Kereta Api (1) Kesehatan (2) Kesehatan Mental (1) Kesempatan. (1) Kevin Carter (1) Khairil Anwar (1) Killing boredom (1) Koki (1) Kolonel Sanders (1) Kompas.com (1) Kopi (1) Korea (1) Korea Selatan (1) Kucing (1) Kura kura (1) Kurikulum SD (2) Kustiyadi (62) Kutu Anjing (1) Kyai (1) Laki laki (1) Lalat (1) Lebih Baik Menyalakan Lilin (1) Lechman Brother (1) Lendo Novo (1) Leon Fraser (1) Li-li (1) Ling (1) Lisa Long (1) Lukmanul Hakim (1) M Anis Matta (1) Macintosh (1) Maisyir (1) Majalah PESONA (1) Massachusetts (1) Mata Satu (1) Matahari (1) Matsnawi Ma'nawi (1) Maulana Jalaluddin Muhammad Mowlavi (1) Menikah (1) Menteri BUMN (1) Michael Dell (1) MicroSoft Inc (2) Mind changing concept (1) Miskin (1) Moral (1) Motivasi (4) motivatweet (1) MT. Whitney High School Visalia (1) Muhaimin Iqbal (1) MUI (1) Mumun (1) Munawar Kholil (1) Musfikin (1) Nabi Musa as (1) Narso (2) Natin (1) Nelson Mandela (1) Nenek (2) New York Times (1) Nida (1) Ninik Kristiyani (1) Nobel (1) Obat (1) Operasi (1) Orangtua (1) Oscar (1) Pacul (1) Pahlawan (1) Paku (1) Parang Aris Budiman (1) Peking (1) Pelaut (1) Pembelah Kayu (1) Pemburu (1) Pemuda (1) Pemuda Pemarah (1) Pencuri Kue (1) Pendidikan (3) Penipuan (1) Penjual Es Keliling (1) Pensil (1) Penyesalan (1) Penyihir Sakti (1) Permen (1) Petani (1) Pixar Animation Studios (1) Polda Metro Jaya (1) Pramugari (1) PT. Sulaksana Watinsa Indonesia (1) QS: Al-Israa’ ayat 36 (1) QS. Al Baqarah : 155-157 (1) QS. Al Hujurat ayat 6 (1) QS. Ar Rum : 41 (1) QS. Maryam 25 (1) Racun (1) Raja (1) Raja Dinamit (1) Ramang-Aang Witarsa (1) Razzie Award (1) Reed College (1) Register Content (1) Rejeki (1) Rekening (1) Rentenir (2) Restoran (1) Rhenald Kasali Prof (1) Riba (1) Richard Whitney (1) Robert G. Ingersoll (1) Rokok (1) Romo Mangunwijaya (1) Rumah Sakit (4) Salma (1) Sanders (1) Sandra Eller (1) Sandy Hook di Newtown (1) Sanggar Tari (1) Sarkozy (1) Satwa (1) Sebuah Pelajaran Berharga dari Jordania (1) Sedekah (1) Sejarah (1) Sekolah Tinggi Filsafat Driyarkara (1) Seligman (1) Semarang (1) Semut (1) Seoul (1) Setiawan Eko Nugroho (1) Shanghai (1) Shasimi (1) Sinetron (1) Singa (1) Singapura (2) Sinshe (1) SMS (1) Soetjipto Soentoro-Anwar Udjang (1) Solihin GP-Sukandar (1) Spider Man (1) ST (1) Steve Jobs (1) Steven Ny (1) Steven Wozniak (1) Subakat Hadi (1) Sudan (1) Sugiharto (1) Sumur (1) Sunan Kalijaga (1) Sundar Pichai (1) Suster (1) Susy Aisyah Nataliwati (1) Swim with the tide (1) Taman Kanak Kanak (1) Tan Shot Yen dr. (1) Tangan Berkait (1) Telur (1) Tempayan (1) The Art of The Comeback (1) The Art of The Deal dan Surviving at the Top (1) The Power of Dreams (1) The Power of Focus (1) The Power of Self Discipline (1) The Well of Ruma (1) Thomas Lickona (1) Tipp-Ex (1) Toko Obat Cina (1) Toyota Corporation (2) Tri Astuti (3) Tsabit bin Ibrahim (1) Tukang Air (1) Tuli (1) Tunov Mondro Atmodjo (1) Twitter (1) Ucok Baba (1) USA Today (1) Ushul Fiqih (1) Utsman bin Affan (1) Vince Lombardi (1) Wang (1) Wanita (2) Widjajono Partowidagdo (1) Wortel (1) Yoyoi Oyoi (2) Zakky (1)