Natin melintas di depan kantin belakang gedung perkantoran mewah. Sesaat kemudian satu persatu orang berdatangan dan bergerombol seperti biasanya. Rupanya, mereka mengimani bahwa rezeki setiap orang sudah ditentukan Allah. Tidak ada gunanya kerja lebih gigih meskipun mereka sering kekurangan. Anak dan istrinya pun tidak boleh menuntut lebih. Karena – katanya – hal itu menggambarkan pengingkaran kepada takdir Tuhan.
Ayah Natin punya beberapa teman yang kehidupannya sangat baik. Punya mobil bagus. Punya rumah indah. Tapi, sehari-harinya mereka lebih banyak terlihat ada di rumah. Tidak seperti Ayah yang setiap hari, mesti berangkat pagi sekali. Dan pulang sering larut malam. Sampai-sampai mengeluh dalam hatinya;”Takdir ini tidak adil. Orang yang kerja keras, dikasih sedikit. Sedangkan orang yang malas, diberi lebih banyak….”Tapi anehnya, Ayah juga tidak berani ambil resiko dengan berhenti bekerja dan memilih menjadi orang malas saja. Ia percaya jika tidak bekerja tidak akan mendapatkan nafkah.
