Mengapa
penduduk desa sampai gelisah dan pusing memikirkan utang negara? Bahkan
impor garam? Ternyata ada virus yang menjalar cepat: virus informasi
setengah matang. Mereka hanya tahu sepotong tentang utang negara:
jumlahnya yang meningkat.
Saya minta seorang peserta dialog untuk
berdiri. Saya ajukan pertanyaan padanya: baik mana, Anda punya utang Rp 8
juta tapi kekayaan Anda Rp 10 juta atau Anda punya utang Rp 20 juta
tapi kekayaan Anda Rp 100 juta.
Benar bahwa utang itu meningkat,
tapi juga benar kekayaannya meningkat drastis. Inilah yang tidak pernah
sampai ke masyarakat. Mungkin memang tidak sampai, mungkin juga sengaja
disembunyikan.
Peserta dialog yang saya minta berdiri itu rupanya
seorang humoris. Dengan nada bergurau dia menjawab, lebih baik
kekayaannya meningkat, tapi tidak punya utang ! Ini mah mirip khotbah
Jumat yang pernah saya dengar: semua orang itu inginnya serba enak. Waktu
kecil dimanja, waktu remaja foya-foya, waktu muda kaya raya, waktu tua
sehat bahagia, waktu meninggal masuk sorga !
Dari dialog di desa
malam itu saya melihat penularan hope kalah cepat dengan penularan
pesimisme. Begitu cepat virus pesimisme, sinis, keluh kesah, dan
sebangsanya menjalar ke mana-mana. Ini tentu bahaya, mengingat hope
adalah salah satu faktor utama untuk kemajuan bangsa.
Di sini hope
menghadapi persoalan yang sangat berat. Menularkan pesimisme cukup hanya
dengan kata-kata. Modalnya pun hanya gombal. Sedangkan membangun hope
harus dengan kerja nyata plus hasil yang bisa dirasa. Setiap kesulitan
harus diberikan jalan keluar. Setiap kebuntuan harus ada terobosan.
Masyarakat yang ada dalam “kuldesak” yang terlalu lama hanya akan
membuat virus anti kemajuan merajalela.
Serbuan virus hopeless dari
kota inilah yang kini harus dilawan di desa-desa dengan bukti nyata.
Karena itu, Bulog, Sang Hyang Sri, Pertani, Pupuk Indonesia, PT Garam,
pabrik-pabrik gula, perhutani, dan banyak BUMN lainnya tahun ini harus
bekerja all-out di lapangan.
Bulog, dengan pasukan semutnya,
ternyata bisa. Dalam lima bulan ini saja Bulog sudah berhasil menghimpun
2 juta ton beras! Prestasi yang sangat membanggakan. Kerja lima bulan
ini sudah sama dengan hasil pengadaan beras selama dua tahun
(2010-2011).
Memang melelahkan. Tapi, itulah harga yang harus
dibayar untuk memulihkan kepercayaan masyarakat. Memang harus muter
terus -saya lihat sampai-sampai Dirut Bulog Sutarto Alimoeso kini ganti
sepatu kets- tapi dengan hasil yang begitu nyata akan menambah
kepercayaan diri kita.
Memulai kerja keras memang sangat berat. Tapi, kalau sudah terbiasa bekerja keras, semua pekerjaan akan menjadi mudah.
Dalam dua minggu ini saya juga sudah berkeliling 14 pabrik gula di tiga
provinsi. Sudah pula tampak perubahan: bukan saja pocong-pocong sudah
bermetamorfosis menjadi “Ayu-ayu Azhari”, tapi gigitannya pun sudah
berotot. Semua pabrik gula sudah mampu meningkatkan rendemen awal. Semua
pabrik gula juga sudah berani memberikan jaminan rendemen minimal
kepada petani.
Hebatnya lagi, semua pabrik gula juga sudah berani
memberikan uang jaminan kepada petani tebu. Selama ini petani tebu
terjerat oleh pedagang gula. Ini bukan salah si pedagang, tapi karena
pabrik gula sendiri yang tidak berdaya: baru bisa membayar sebulan
setelah petani menyerahkan tebunya.
Sebaliknya pabrik-pabrik gula
kini juga sudah berani menerapkan prinsip BSM kepada petani tebu:
bersih, segar, manis. Tebu yang dikirim ke pabrik haruslah tebu yang
bersih. Tidak tercampur pucuk-pucuknya, tanah-tanahnya, dan
anakan-anakannya. Tebu itu juga tebu yang segar, yang fresh from the
field.
Dan yang paling penting, tebu yang dikirim ke pabrik adalah
tebu yang sudah cukup manisnya. Jangan menebang tebu sebelum dipastikan
(diperiksa dengan alat pengukur) bahwa tebu tersebut sudah matang kadar
gulanya.
Saya melihat semangat yang tinggi di semua manajer dan
karyawan pabrik gula yang sudah saya kunjungi. Juga semangat untuk
“polos-polos saja”. Semula dahi saya mengerut ketika mendengar istilah
“polos-polos saja” itu. Saya tidak mengerti apa maksudnya. Ternyata
itulah tekad baru untuk tidak mempermainkan angka. Angka rendemen, angka
timbangan, angka pupuk, angka tanam, angka angkutan, dan angka-angka
yang menggoda lainnya.
Saya paham, membiasakan diri untuk
“polos-polos saja” juga sangat berat awalnya. Tapi, kalau sudah
terbiasa, hidup ini akan dimudahkan jalannya.
Sang Hyang Sri,
Pertani, dan Pupuk Indonesia (Pupuk Sriwijaya, Petrokimia Gresik, Pupuk
Kaltim, dan Pupuk Kujang) juga bisa menjadi motor besar untuk
menggerakkan hope di seantero desa: mendekatkan benih unggul, pupuk, dan
pembasmi hama ke desa-desa. Puluhan ribu kios harus di bangun. Di
mana-mana.
Jangan sampai petani kesulitan mencari pupuk yang
akhirnya mendapat pupuk palsu. Sulit mencari benih unggul yang akhirnya
menanam padi seadanya. Program mendekatkan benih-pupuk ke desa-desa
memang akan memakan waktu, tapi harus istiqamah jalannya.
Garam pun
sebenarnya juga penuh dengan hope. Terutama untuk garam yang dimakan
manusia. (Sebagian besar garam diperlukan oleh pabrik kertas!).
Sebetulnya, kalau hanya untuk manusia Indonesia, keperluan garamnya
tidak banyak: 1,4 juta ton per tahun. Kita lebih menyukai yang
manis-manis daripada yang asin-asin.
Saya berterima kasih bahwa
Menteri Perindustrian, Bapak M.S. Hidayat, menemukan cara baru:
membranisasi ladang garam. Begitu pentingnya program membranisasi ini
sehingga saya usul ke Pak Hidayat penyertaan modal negara (PMN) untuk
berbagai industri dikurangi saja. Lebih baik dikonsentrasikan untuk
menolong jutaan petani garam di seluruh Indonesia. Triliun rupiah PMN
untuk Merpati, misalnya, hasilnya begitu-begitu saja. Merpati harus
dicarikan jalan sendiri. Jalan korporasi. Bukan jalan subsidi.
Kalau
dari sekitar 20.000 hektare ladang garam di seluruh Indonesia bisa
diberikan membran 10 persennya saja, hasilnya bisa mencapai 1,7 juta
ton/tahun. Sudah melebihi keperluan garam untuk manusia Indonesia.
Tapi, membeli membran untuk 2.000 ha ladang garam memang memerlukan
biaya besar. Tiap hektare memakan dana Rp 20 juta. Tapi, angka itu tidak
ada artinya jika dibandingkan dengan PMN untuk bidang lain. Padahal,
angka itu begitu besar artinya bagi petani garam. Belum lagi bagi harga
diri bangsa yang selalu dihina dengan kalimat: garam pun harus impor!
Sambil menunggu PMN, saya akan minta bank-bank BUMN untuk menghitung.
Mungkinkah skema kredit dilakukan untuk membranisasi itu. Menurut
hitungan Dirut PT Garam, payback membran ini hanya dua tahun. Berarti
petani garam bisa mengembalikan kredit itu dalam dua tahun. Apalagi
kalau diizinkan menggunakan dana KPBL BUMN untuk membayarkan bunganya.
Agar petani garam tidak dibebani bunga.
Membran adalah sejenis
plastik yang dihamparkan di tambak garam. Dengan dihampari membran,
keuntungannya dobel: proses pembuatan garamnya lebih cepat (air lautnya
lebih panas sehingga lebih cepat menguap) dan semua garamnya menjadi
garam kelas satu.
Tanpa membran, lapisan garam yang paling bawah
pasti tercampur tanah dan lumpur. Ini membuat sekian persen garam
menjadi garam kelas tiga. Sulit dijual. Murah pula harganya. Di Madura
saja kini ada 350.000 ton garam jenis ini. Menumpuk. Tidak ada yang
beli. Isunya pun negatif: BUMN tidak mau beli garam rakyat.
Membran adalah hope baru bagi petani garam. Ini juga belum banyak diketahui.
Selesai salat Jumat di sebuah masjid di pinggir jalan di Cirebon minggu
lalu, ketika mulai mengenakan sepatu DI-19, saya didatangi camat dan
kuwu setempat. Sambil melirik DI-19, Pak Camat mengemukakan bahwa di
depan masjid itu ada aset BUMN yang sudah puluhan tahun menganggur.
Itulah bangunan milik PT Garam yang sudah lama ditinggalkan.
Padahal, ada sekitar 1.000 petani garam di kawasan dekat masjid itu
sampai ke Indramayu. PT Garam sebagai BUMN tidak pernah melakukan
pembelian garam rakyat. Kepada Pak Camat, saya berjanji untuk
menelusurinya. Saya juga bertanya: apakah sudah ada petani garam yang
menggunakan membran. Ternyata belum. Bahkan, kata membran pun baru
sekali itu dia dengar.
Sambil mengemudikan mobil ke Pabrik Gula
Jatitujuh, saya hubungi Dirut PT Garam. Benar. Tidak ada pembelian itu.
Bahkan sudah sejak 1992. Tapi, PT Garam yang baru mulai tahun ini bisa
bernapas sudah bisa memberikan hope. Tahun ini PT Garam bisa membeli
garam rakyat di Cirebon-Indramayu sebanyak 15.000 ton. Indikasi harganya
pun sudah bisa disebut: Rp 700 hingga Rp 720 per kilogram, bergantung
kualitasnyana. Ini sudah lebih baik daripada harga tahun lalu yang Rp
620 per kilogram.
Untuk garam, kawasan Cirebon-Indramayu memang
tidak sebagus Madura. Di Indramayu, petani hanya bisa membuat garam
sekitar empat bulan dalam setahun. Bulan ini, saat Madura sudah bisa
menghasilkan garam, Indramayu masih hujan. Tentu di atas langit masih
ada langit. Sebagus-bagus Madura masih lebih bagus lagi Kupang, NTT. Di
sana garam bisa dibuat selama sembilan bulan dalam setahun!
Hanya belum ada ladang garamnya. PT Garam baru akan ke sana setelah napasnya genap. Mungkin tahun depan.
Hope memang tidak membuat perut terasa kenyang. Tapi, hope-lah yang bisa membuat hidup terasa lebih hidup!
Dahlan Iskan, Menteri BUMN
Tidak ada komentar:
Posting Komentar