Kamis, 17 Mei 2012

Anak bisa sukses, bila dia dilatih sukses


Anak bisa sukses, bila dia dilatih sukses, yang mekanismenya ditemukan Seligman.
A. Belajar untuk helpless (tidak berdaya ?) Bag 1.
Kunci sukses bukan hanya kecerdasan, tapi juga sikap, Bahkan  koeffisien korelasi antara kecerdasan dan sukses di universitaspun hanya  26  %, padahal "kecerdasan" sangat scholastic.
Ketika menjadi mahasiswa Seligman (yg yang kemudian menjabat ketua  Assosiasi Psikatry Amerika). Seligman mendapati bahwa bahwa ada  anjing-anjing itu tidak bereaksi apa-apa, ketika disengat dengan listrik,  dia melihat mereka hanya telentang saja menerima sengatan listrik itu.
Pada waktu itu tidak ada teori yang menjelaskan perilaku ini. Diapun mengadakan riset.
Dia membagi anjing (yang lain, bukan anjing yg diatas) dalam tiga  grup A, B dan C.
Semula, anjing-anjing dalam grup A dipasangi pakaian  kuda  dan mendapat kejutan listrik. Mereka bisa menghentikan kejutan itu dengan menekan sebuah palang dengan hidung mereka, dan mereka dengan segera  melakukannya.
Anjing- anjing dalam grup B juga dipasangi pakaian kuda dan juga mendapat kejutan listrik ringan. Tapi mereka tidak diberi suatu cara untuk menghentikan kejutan listrik itu.
Anjing- anjing dalam grup C juga  dipasangi pakaian kuda tapi tidak mendapat kejutan listrik, sebagai grup kontrol.
Di hari kedua Seligman menyediakan suatu kotak yang terdiri dari 2  bagian yang dipisahkan oleh sebuah palang. Di Ruangan Pertama ada  sengatan  listrik ringan, di ruangan kedua tidak ada sengatan listrik.
Jadi kalau  anjing ada di ruangan pertama maka dia akan mendapat sengatan listrik ringan, dan bila dia ada di ruangan kedua tidak akan mendapat sengatan listrik.
Anjing-anjing grup A yang kemarin belajar bahwa mereka bias mengatasi keadaan dengan menekan palang, dan anjing-anjing grup C, dengan mudah mencari dan menemukan solusi untuk menghindari sengatan listrik pindah melompati palang menuju tempat yang aman.
Tapi anjing-anjing grup B yang kemarin tidak belajar bahwa mereka bisa mengatasi keadaan, hanya telentang dan mendengking dengking. Mereka tidak mencoba untuk melarikan diri dari sengatan listrik.
Anjing kelompok B sudah belajar tidak berdaya, dorongan mereka untuk mengatasi persoalan telah hancur. Ini menginternalisasi keyakinan bahwa apa yang Anda kerjakan tidak ada manfaatnya.
Para peneliti kemudian menemukan bahwa kucing, ikan, anjing, tikus,kecoa, dan manusia mempunyai kemampuan untuk belajar tidak  berdaya.
Penelitian ini kemudian diterbitkan dalam buku yang terkenal di tahun 1993 dengan judul Learned Helplessness.
Penelitian ini merubah banyak pandangan orang Amerika terhadap minoritas, yang semula dipandang sebagai orang  yang  miskin karena bodoh, menjadi orang yang tak berdaya karena sudah terlalu  lama tidak diberi kesempatan.

B. Belajar untuk helpless (tidak berdaya ?) bag 2.
Donald Hiroto, menempatkan 3 kelompok orang ditiga ruangan. Ruangan kelompok A dan B diberi suara yang keras sekali. Ia kemudian menyuruh  mereka menghentikan suara itu dengan memencet tombol – tombol.
Kelompok A diberi tombol yang tidak bisa menghentikan suara keras itu, jadi apapun yang mereka pencet suaranya tidak berhenti. Kelompok B diberi tombol yang  bila dipencet dengan kombinasi yang tepat, maka suaranya berhenti.

Kelompok C tidak diberi suara keras sama sekali dan merupakan kelompok kontrol.
Kemudian Hiroto membawa mereka ke suatu ruangan yang di dalamnya  ada  kotak. Apabila mereka menempatkan tangan mereka di satu sisi, maka suara  itu tidak berhenti, akan timbul suara keras. Apabila mereka menempatkan  tangan mereka di sisi yang lain, maka suara itu hilang.

Orang dari kelompok A yang tombolnya tidak bisa menghentikan suara, mayoritas hanya duduk-duduk saja, mereka tidak mencoba untuk mengakhiri  penderitaannya.
Kelompok B yang tadinya bisa mengendalikan suara, belajar mematikannya dengan menggerakkan tangan mereka dari satu sisi ke sisi lain  dalam kotak itu. Disini waktu, tempat dan situasinya sudah diubah, namun orang itu telah belajar ketidak berdayaan (jadi lebih meyakinkan" dari  percobaan Seligman, karena objeknya adalah manusia dengan kemampuan  kognitive tinggi).

C. Belajar untuk helpless (tidak berdaya ?) bag 3.
Howard Tennan dan Sandra Eller dari State University of New York di Albany, mela-kukan penelitian dengan 49 orang mahasiswa.
Kelompok pertama diberi sekumpulan teka-teki yang tidak bisa dipecahkan, sehingga setiap  kali menjawab selalu salah, kelompok kedua diberi sekumpulan teka-teki yang bisa dipecahkan. Kemudian kedua kelompok itu diberi lagi tugas, kini  keduanya masing-masing mendapat sekumpulan teka-teki yang bisa  dipecahkan.
Ternyata kelompok pertama menghasilkan kinerja yang lebih buruk dari kelompok kedua. Jadi kelompok pertama telah mempelajari ketidak berdayaan.
Jadi kalau Anak selalu kita salahkan (semuanya selalu salah), maka dia tidak lagi berupaya untuk menanggulangi masalah. Dan hilangnya kemampuan ini merupakan reflex, di luar kemampuan kognitivnya. Dengan kata  lain "kehilangan kemampuan ini", diluar proses akalnya. Jadi kita harus  bijak dalam berhubungan dengan anak.

Salah satu yang Didapat dari Kelas Inspirasi adalah : "Anak-anak  belajar untuk berhasil."
Jadi setelah belasan ribu tahun manusia melihat orang sukses,  diabad  20 Seligman menjelaskan the mechanics of success. Sama dengan : setelah  belasan ribu tahun orang bisa mengajari binatang, maka baru di abad 20 Skinner mampu menenerangkannya.
Mudah-mudahan berguna bagi yang punya anak / cucu dalam masa pembentukan jati diri.


In sinergi-ia-itb@yahoogroups.com, Subakat Hadi

Tidak ada komentar:

Posting Komentar