Selasa, 29 Mei 2012

Ketika Wong nDeso Naik Pesawat . . .

Pada suatu akhir pekan yang padat saya berangkat pagi-pagi ke sawah percobaan kami di Boyolali, di sana telah menunggu dengan antusias rombongan petani yang datang dari sentra produksi beras nasional di Jawa Barat. Selesai berdiskusi di sawah bersama team kami dan para petani tersebut, saya harus bergegas balik ngejar pesawat ke Jakarta. Namanya juga dari sawah, tanpa saya sadari sepatu saya masih ada bekas tanah sawah disana sini ketika masuk ruang tunggu bandara. Rupanya beberapa penumpang lain melihatnya, saya membayangkan apa yang ada di pikiran mereka seandainya terucap mungkin akan bilang “ …ono wong ndeso naik pesawat…”.
Saya memperoleh pelajaran yang sangat berharga dari kejadian ini , bukan karena malu dilihat orang sebagai ‘wong ndeso’ – tetapi dari inspirasi solusi berbasis kecepatan putaran atau gerakan saya hari itu – yang bahkan tidak sempat membersihkan sepatu.

Kamis, 17 Mei 2012

Anak bisa sukses, bila dia dilatih sukses


Anak bisa sukses, bila dia dilatih sukses, yang mekanismenya ditemukan Seligman.
A. Belajar untuk helpless (tidak berdaya ?) Bag 1.
Kunci sukses bukan hanya kecerdasan, tapi juga sikap, Bahkan  koeffisien korelasi antara kecerdasan dan sukses di universitaspun hanya  26  %, padahal "kecerdasan" sangat scholastic.
Ketika menjadi mahasiswa Seligman (yg yang kemudian menjabat ketua  Assosiasi Psikatry Amerika). Seligman mendapati bahwa bahwa ada  anjing-anjing itu tidak bereaksi apa-apa, ketika disengat dengan listrik,  dia melihat mereka hanya telentang saja menerima sengatan listrik itu.
Pada waktu itu tidak ada teori yang menjelaskan perilaku ini. Diapun mengadakan riset.
Dia membagi anjing (yang lain, bukan anjing yg diatas) dalam tiga  grup A, B dan C.
Semula, anjing-anjing dalam grup A dipasangi pakaian  kuda  dan mendapat kejutan listrik. Mereka bisa menghentikan kejutan itu dengan menekan sebuah palang dengan hidung mereka, dan mereka dengan segera  melakukannya.