Kamis, 09 Februari 2012

Anak adalah titipan Allah

Sepasang suami isteri – seperti pasangan pasangan lain di kota-kota besar meninggalkan anak-anaknya diasuh pembantu rumah sewaktu bekerja. Anak tunggal pasangan ini, perempuan cantik berusia tiga setengah tahun. Sendirian ia di rumah dan kerap kali dibiarkan pembantunya karena sibuk bekerja di dapur.
Setiap harinya, dia terbiasa bermain sendirian di halaman rumahnya. Suatu hari dia melihat sebatang paku berkarat. Dan ia pun mencoret lantai tempat mobil ayahnya diparkirkan, tetapi karena lantainya terbuat dari marmer maka coretan tidak kelihatan. Dicobanya lagi pada mobil baru ayahnya yang berwarna gelap, maka coretannya tampak jelas. Anak itu semakin asyik mencoret-coret dengan kreativitasnya. Dibuatnya gambar ibu dan ayahnya, lalu gambarnya sendiri, lukisan ayam, kucing dan lain sebagainya mengikuti imaginasinya.Kejadian itu berlangsung tanpa disadari oleh si pembantu rumah, saat pulang petang, terkejutlah pasangan suami istri itu melihat mobil yang baru setahun dibeli. Si bapak yang belum lagi masuk ke rumah ini pun terus menjerit, ‘Kerjaan siapa ini !!!’ …. Pembantu rumah yang tersentak dengan jeritan itu berlari keluar. Dia juga beristighfar. Mukanya merah padam ketakutan lebih lebih melihat wajah bengis tuannya. Sekali lagi diajukan pertanyaan keras kepadanya, dia terus mengatakan ‘ Saya tidak tahu..tuan.’ ‘Kamu di rumah sepanjang hari, apa saja yang kau lakukan ?’hardik si istri lagi.
Si anak yang mendengar suara ayahnya, tiba-tiba berlari keluar dari kamarnya. Dengan penuh manja dia berkata ‘Dita yang membuat gambar itu ayah... bagus …kan!’
Si ayah yang sudah hilang kesabaran, kemudian mengambil tangkai sapudan dipukulkannya ke telapak dan punggung tangan anaknya berkali kali. Si anak yang tak mengerti apa apa menangis kesakitan, pedih sekaligus ketakutan. Puas melampiaskan amarahnya, si ayah berlalu masuk ke dalam rumah, sedangkan si ibu cuma mendiamkan saja, seolah merestui tindakan si ayah menghukum putri mereka.
Pembantu rumah terbengong, tidak tahu harus berbuat apa, kemudian menggendong anak tersebut dan membawa ke kamarnya. Dia terperanjat melihat telapak tangan dan belakang tangan si anak kecil sebagian memar dan berdarah. Pembantu rumah memandikan anak kecil itu. Sambil menyiramnya dengan air, dia ikut menangis. Anak kecil itu juga menjerit-jerit menahan pedih saat luka lukanya itu terkena air. Lalu si pembantu rumah menidurkan anak kecil itu. Si ayah sengaja membiarkan anak itu tidur bersama pembantu rumah.
Keesokkan harinya, kedua belah tangan si anak bengkak. Pembantu rumah mengadu ke majikannya. ‘Oleskan obat saja!’ jawab bapak si anak. Pulang dari kerja, dia tidak memperhatikan anak kecil itu yang menghabiskan waktu di kamar pembantu. Tiga hari berlalu, si ayah tidak pernah menjenguk anaknya sementara si ibu hanya bertanya kepada pembantu rumah, bagaimana keadaan anaknya, jawab pembatu rumah, "Dita demam, Bu". Kemudian si ibu menjawab, "Kasih minum obat penurun panas saja".
Sebelum si ibu masuk kamar tidur dia menjenguk kamar pembantunya. Saat dilihat anaknya Dita dalam pelukan pembantu rumah, dia menutup lagi pintu kamar pembantunya. Masuk hari keempat, pembantu rumah memberitahukan tuan nya bahwa suhu badan Dita terlalu panas. ‘Sore nanti kita bawa ke klinik.. Pukul 5.00 , sudah siap’ kata majikannya itu. Sampai saatnya si anak yang sudah lemah dibawa ke klinik.
Dokter menyarankan agar ia dibawa ke rumah sakit karena keadaannya sudah serius. Setelah beberapa hari di rawat inap, dokter memanggil bapak dan ibu anak tersebut. ‘Tidak ada pilihan…’ kata dokter tersebut yang mengusulkan agar kedua tangan anak itu dipotong karena luka ditangannya sudah infeksi akut…’ Ini sudah bernanah, demi menyelamatkan nyawanya maka kedua tangannya harus dipotong dari siku ke bawah’ kata dokter itu. Si bapak dan ibu bagaikan terkena halilintar mendengar kata-kata itu. Terasa dunia berhenti berputar, tapi apa yaang dapat dikatakan lagi. Si ibu meraung merangkul si anak. Dengan berat hati dan lelehan air mata isterinya, si ayah bergetar tangannya menandatangani surat persetujuan pembedahan.
Keluar dari ruang bedah, selepas obat bius yang disuntikkan habis, si anak menangis kesakitan. Dia juga keheranan melihat kedua tangannya berbalut kasa putih. Di tatapnya muka ayah dan ibunya. Kemudian ke wajah pembantu rumah. Dia mengerutkan dahi melihat mereka semua menangis..
Dalam kondisi menahan sakit, si anak bersuara dalam linangan air mata. ‘Ayah.. ibu… Dita janji tidak akan melakukannya lagi…. Dita tak mau lagi ayah pukul. Dita tak mau jahat lagi… Dita sayang ayah..sayang ibu.’, katanya berulang kali membuat si ibu gagal menahan rasa sedihnya. ‘Dita juga sayang Mbok Narti..’ katanya memandang wajah pembantu rumah, sekaligus membuat wanita itu meraung histeris. ‘Ayah.. kembalikan tangan Dita. Untuk apa diambil.. Dita janji tidak akan mengulanginya lagi! Bagaimana caranya Dita mau makan nanti?…Bagaimana Dita mau bermain nanti?… Dita janji tdk akan mencoret2 mobil lagi, ‘ katanya berulang-ulang. Serasa hancur hati si ibu mendengar kata-kata anaknya. Meraung2 dia sekuat hati namun takdir yang sudah terjadi tiada manusia dapat menahannya. Nasi sudah jadi bubur.
Pada akhirnya si anak cantik itu meneruskan hidupnya tanpa kedua tangan dan ia masih belum mengerti mengapa tangannya tetap harus dipotong meski sudah minta maaf…Tahun demi tahun kedua orang tua tsb menahan kepedihan dan kehancuran bathin sampai suatu saat sang ayah tak kuat lagi menahan kepedihannya dan wafat diiringi tangis penyesalannya yg tak bertepi…,Namun…., si Anak dengan segala keterbatasan dan kekurangannya tsb tetap hidup tegar bahkan sangat sayang dan selalu merindukan ayahnya....

Semoga kita tetap dapat menjaga permata hati kita yang telah diamanahkan oleh Allah….amien…

Tidak ada komentar:

Posting Komentar